Meeting secara daring saat ini adalah solusi terbaik yang bisa dilakukan disaat  pandemi covid-19 masih melanda di Indonesia. Kick off meeting BDS LSIC dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 2 Juni - 8 Juni 2020, PUPUK banyak belajar terkait dengan  mengenai sanitasi dan bisnis sanitasi yang akan dikerjakan oleh PUPUK di 4 Target wilayah kerja.




Online Kick off meeting BDS LSIC

78 | NEWS P.U.P.U.K

Industri pariwisata Indonesia berkontribusi besar bagi perekonomian, salah satu penyumbang terbesar devisa dan mampu menyerap 16,1 juta tenaga kerja (BPS, 2019). Mewabahnya pandemi corona virus membuat industri pariwisata menjadi salah satu yang terdampak paling keras. Keputusan otoritas pemerintah untuk mengendalikan penyebaran wabah dalam bentuk pembatasan interaksi dan pergerakan manusia (Pembatasan Sosial Berskala Besar/PSBB), menghentikan transportasi masal, himbauan social distancing hingga phisycal distancing membuat pariwisata mati suri. Sebelumnya industri pariwisata sempat terkena dampak tiket pesawat mahal tapi masih mampu bertahan. Menyikapi kondisi tersebut membuat pengelola wisata tidak memiliki pilihan lain selain menutup destinasi wisata untuk sementara waktu. Dampaknya adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan sektor pariwisata, baik obyek wisata itu sendiri maupun sektor yang terkait seperti perhotelan dan souvenir.

Tahun 2020 benar-benar menjadi ujian berat bagi industri pariwisata, ditengah fenomena booming yang dialami industri ini beberapa tahun terakhir. Semua lini yang berhubungan dengan sektor wisata pun ikut terdampak. Tidak terkecuali dengan CBET/CBT (Community Based Ecotourism/Community Based Tourism), satu model pariwisata yang digadang sebagai sebuah praktik wisata yang lebih berkelanjutan bagi aspek lingkungan, sosial dan ekonomi dibandingkan dengan praktik pariwisata mainstream. CBET/CBT juga dianggap sebagai jalan tengah, sebuah win-winsolution untuk membendung laju praktik ekonomi ekstraktif yang mungkin dapat merusak alam seperti eksploitasi hutan, pertambangan hingga perburuan satwa liar.

CBET/CBT bukan sekedar wisata menikmati air terjun atau pantai tapi CBT/CBET adalah menikmati air terjun atau pantai yang dikelola oleh masyarakat setempat dengan memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Dalam CBT/CBET pengunjung/ wisatawan justru harus menyesuaikan dengan nilai sosial setempat, tidak merusak lingkungan –misalnya dengan buang sampah sembarangan atau memburu hewan- serta mengetahui bahwa masyarakat lokal setempat ikut mengelola destinasi wisata dan mendapat manfaat secara ekonomi, tidak hanya menjadi pekerja investor wisata.

Konsep CBET&CBT dalam skala desa seringkali lebih akrab dikenal dengan istilah Ekowisata atau Desa Wisata atau Wisata Desa. Didorong oleh pasar wisatawan yang terus tumbuh dan desa memiliki wewenang dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) memicu kemunculan banyak destinasi wisata berbasis komunitas, terutama di tingkat desa. Secara logika, lahirnya destinasi baru tentu kemudian berbanding lurus dengan terciptanya peluang ekonomi baru, khususnya bagi masyarakat lokal, baik sebagai pekerja di destinasi maupun di sektor pendukung seperti transportasi, akomodasi hingga kuliner. Di luar aspek ekonomi, kemunculan beberapa CBT/CBET terbukti mendorong tumbuhnya kesadaran serta upaya perlindungan dan konservasi alam serta budaya lokal sebagai bagian dari daya tarik bagi destinasi.

Sebagai satu contoh konkrit, lahirnya ekowisata mangrove di Desa Banyuruip Kecamatan Ujungpangkah —Gresik, CMC Tiga Warna Malang Selatan dan banyak daerah lain terbukti mampu mendorong tumbuhnya kesadaran komunitas dalam upaya perlindungan dan konservasi ekosistem mangrove. Di Jember kemunculan destinasi CBET Tanoker terbukti mendorong upaya pelestarian budaya dolanan (permainan) tradisional, seperti egrang, bermain lumpur hingga mandi di sungai, sesuatu yang telah lama ditinggalkan oleh generasi saat ini. Sampai disini CBET memberikan gambaran yang menjanjikan contoh baik bagaimana ekonomi, alam dan sosial dapat selaras tanpa saling mengeliminasi.

Euforia tersebut berlanjut hingga kemudian wabah coronavirus yang bermula di Wuhan-China berubah menjadi pandemi global, tidak terkecuali Indonesia. Walau model CBT/CBET nyatanya tidak lantas sepenuhnya kebal terhadap goncangan krisis, model ini tetaplah bagian dari industri pariwisata, sektor yang sensitif dan rentan terhadap kondisi krisis. Kerentanan dalam bentuk hilangnya pendapatan dari sektor wisata bagi masyarakat lokal yang terlibat. Kemungkinan terburuk ketika hilangnya pendapatan masyarakat dalam skala yang lebih luas boleh jadi akan menimbulkan potensi ancaman dalam bentuk perambahan kawasan konservasi. Selain bagi manusia, nyatanya sebuah pandemi juga berpotensi memunculkan bahaya bagi satwa dalam kawasan destinasi, utamanya bagi destinasi yang menawarkan interaksi langsung dengan satwa liar. Hal ini menyusul ditemukannya kasus positif coronavirus pada harimau di salah satu kebun binatang di New York, diduga ditularkan oleh zookeeper penderita tanpa gejala. Bukan tidak mungkin di tempat lain kasus serupa dapat ditularkan ke jenis hewan yang lain seperti kera, rusa ataupun penyu, tentu membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Dibeberapa destinasi CBT/CBET yang kami wawancarai, saat ini semuanya menghentikan kegiatan bagi wisatawan untuk sementara waktu, sembari menunggu meredanya wabah. Tentu keputusan ini berdampak langsung terhadap hilangnya pendapatan warga lokal yang dari sektor wisata, baik yang bekerja di destinasi maupun yang mendapatkan manfaat dari sektor pendukung seperti aksesoris, kuliner maupun akomodasi. Satu contoh di Tanoker, pengelola destinasi terpaksa merumahkan 16 pekerja, dan setidaknya 184 orang di sektor pendukung pendapatannya terdampak langsung akibat penutupan destinasi.










 






Sampai tulisan ini dibuat, menurut penuturan pengelola dari beberapa destinasi yang kami wawancarai, setidaknya belum ada bantuan sosial dari pemerintah pusat yang turun bagi pekerja di sektor pariwisata, meskipun pendataan telah dilakukan beberapa waktu yang lalu. Menurut mereka bantuan ini relevan ditengah hilangnya pendapatan dari destinasi wisata.

Untuk bertahan dalam kondisi pandemi seperti saat ini pengelola destinasi bergantung pada ketersediaan uang kas yang dimiliki. Destinasi yang masih memiliki uang kas memilih merumahkan karyawan dan mengganti dengan sistem kerja piket harian demi memperpanjang kemampuan bertahan (memperpanjang nafas). Beberapa kegiatan di destinasi masih berjalan seperti bersih - bersih dan perawatan destinasi, bertujuan agar nantinya destinasi siap ketika pandemi berakhir. Di Clungup Mangrove Conservation Tiga Warna penutupan destinasi dimanfaatkan untuk kegiatan kerja bakti dan penanaman cemara udang, hal serupa juga dilakukan di Banyuurip Mangrove Center, Gresik dengan melakukan penanaman mangrove. Di Tanoker pengelola destinasi melakukan pembagian bibit tanaman pangan kepada pekerja dan masyarat sekitar, upaya ini bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan ditengah situasi krisis akibat pandemi.

Dibanding model wisata mainstream, model CBT /CBET dimana porsi besar kegiatan wisata dilakukan dengan memberdayakan masyarakat lokal dipan-dang memiliki strategi yang lebih baik dalam menghadapi keren-tanan akibat hilangnya penda-patan dari sektor wisata. Meski studi kasus ini tidak mewakili seluruh populasi masyarakat lokal yang terlibat di CBT/CBET, na-mun umumnya masya-rakat lokal yang terlibat didalam CBT/CBET tidak serta merta meninggalkan mata pencaharian sebelumnya yang umumnya bercorak agraris. Bahkan justru model CBT/CBET memungkinkan mata pencaharian masyarakat lokal memiliki nilai tambah yang lebih menghasilkan. Praktik semacam ini terjadi di banyak destinasi CBT/CBET, misalnya di Tanoker. Hilangnya penghasilan dari destinasi wisata dampaknya masih dapat diminimalkan karena beras hasil panen sebelumnya masih tersimpan dan penjahit souvenir beralih memproduksi masker. Di  Banyuurip Mangrove Centre, pemandu mangrove masih aktif bekerja sebagai nelayan kepiting tradisional, mata pencaharian yang lebih tahan krisis, sembari melakukan kegiatan penanaman disaat destinasi tutup untuk sementara waktu.

Di masa depan, masyarakat yang hanya menjadikan sektor pariwisata sebagai mata pencaharian tunggal bukan tidak mungkin akan terus menghadapi resiko kerentanan yang sama. Pandemi Covid-19 merupakan momentum baik untuk memikirkan kembali bagaimana seharusnya model ini dijalankan, misalnya bagaimana pemikiran wisatawan tentang kebersihan dan kesehatan destinasi paska Pandemi Covid-19. Ada kemungkinan wisatawan menuntut perhatian lebih dalam hal kebersihan, bahkan hingga penyediaan alat cuci tangan. Hal tersebut harus diantisipasi oleh pengelola CBT/CBET jika akan membuka kembali destinasi wisatanya. Pandemi corona virus boleh jadi akan berakhir, namun tidak ada jawaban pasti kapan pandemi berikutnya akan kembali.





Community Based Eco-Tourism di Tengah Pandemi Covid-19

3

10

5

6

7

1

8

2

9

4

©. Copyrighat by Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil



PUPUK  Surabaya

Jl. Karah Tama No. 7 Surabaya - 60232

Phone : +62 31 8283976 |Fax : +62 31-8283976

Contact Person: Ike Sulistiowati

[      ] Kantor / Offices:


PUPUK Bandung  

Jl. Permata Taman Sari Raya Kav.6 | Kota Bandung Provinsi Jawa Barat Indonesia 40293

Phone : + 62 22 7834482, + 62 22 7834483, | Fax : + 62 22 7834484

Contact Person : Budhi Prasetya



PUPUK  Makassar

Jl. Manunggal 31 No. 93, Kel. Maccini Sombala,

Kec. Tamalate, Makassar 90224|Phone : +62 812 4241 906

Contact Person : Asdar Masduki

[        ]  Contact Person :


PUPUK  Yogyakarta

Jl. Mangkuyudan No. 10 Yogyakarta

Phone : +62 31 8283976 |Fax : +62 31-8283976

Contact Person : Early Rahmawati



PUPUK  

Rieta R. Dewi

E-mail : rieta.r.dewi@pupuk.or.id

Early Rahmawati

E-mail : early_rahmawati@pupuk.or.id

E-mail : info@pupuk.or.id

Website : www.pupuk.or.id

Meeting Online Kantor PUPUK

Setelah mengadakan webinar di internal PUPUK, maka Perwakilan kantor PUPUK Bandung merasa perlu untuk memulai Kolaborasi dengan Perwakilan Kantor PUPUK Surabaya | Read More…….

Peta sebaran UMKM terdampak pandemi

eta sebaran ini diambil dari Website ABDSI dimana PUPUK termasuk dalam Konsorsium yang melakukan Kolaborasi Multipihak dalam Penanganan Dampak Ekonomi Pandemi Covid-19 | Read More…….

kerjasama antara PUPUK dan 3 lembaga

Diskusi yang dilakukan oleh PUPUK, Futurist Foundation dan Inmark Communication serta Pindad dilaksanakan di kantor Pindad Bandung, disepakati bahwa 4 lembaga ini akan bekerjasama | Read More…….

Launching Wahana Wisata Air “Telaga Ayu”

PUPUK melakukan penandatangan MOU dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat yang dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2019 bertempat di Hotel JW Marriott Bandung | Read More…….

COVER HOME PROFILE CONTACT US GALERY MEDIA  NEWS 
COVER HOME PROFILE CONTACT US GALERY MEDIA  NEWS